SELAMAT DATANG DI SITUS HABIB MUHAMMAD IBNU BIN YAASIN ALMUSAWA

Selasa, 06 September 2016

KUWU SANGKAN

1 komentar:

 


Embah Kuwu Sangkan, atau Pangeran Cakra Buana, atau Prabu Walangsungsang, atau Mbah Somad Al Jawy, atau Pangeran paku Bumi atau Ki gede Rijal jagat bumi atau Pangeran naga Raja penguasa Jawa, atau pangeran Islam Lemah Wungkuk, atau Prabu Panatagama ing cai lor Cirebon atau Prabu Azimat gunung Ciremai, atau Prabu Qutub Langit Empat, atau Ki Ageng Semboyan Kejawen, atau Prabu Qutho Qoshot, atau Prabu Pakuwati, atau Prabu Cisanggarung, atau Pangeran Suto Bumi Mundu, atau Prabu Salam Muhammad Qutub, atau Prabu Menjangan Wulung, atau Prabu Sapu Jagat, atau Prabu Wisesa Bimantara, atau Prabu Diraja Selo, atau Prabu Galuh Ciung Wanara, atau Prabu Adipati Laga, atau Prabu Senopati Kingking dan gelar lainnya...... Beliau sejak di Islamkan oleh Syeikh Dzatul Kahfi, dipuncak gunung Jati, Cirebon, telah membawa satu amaliyyah yang sampai wafatnya masih terlestari.


Pada abad ke 14 waktu itu wilayah Cirebon adalah wilayah kerajaan Galuh yang berpusat di Kawali – Ciamis, Salah satu pangeran anak raja Pangeran Pamanahrasa sebelum jadi raja pernah di dilatih di Rajagaluh desa Pajajaran (sekarang Patilasan Prabusiliwangi) sebagai tempat perguruan para anak araja Kerajaan Galuh. Dan menikah dengan Nyi Ambet Kasih, Namun tidak memiliki anak dari Nyi Ambet Kasih. Pada saat Pangeran Pamanahrasa diperintahkan menutup Pesantren agama Islam yang di pimpin oleh Syeh Quro dari Campa (pada saat itu Agama Islam sedang berkembang) dikarenakan ayahanda Pamanahrasa khawatir dengan perkembangan agama Islam yang begitu pesat, namun hal itu tidak terjadi kerena Pamanahrasa jatuh hati pada anak didik Syeh Quro bernama Nyi Mas Subanglarang putri Ki Jumanjan Jati. Tak lama kemudian masuk Islamlah Pangeran Pamanahrasa dan menikahlah dengan Nyi Mas Subanglarang. Akhirnya mereka memiliki Putra dan Putri (
terlahir tiga bersaudara) yakni bernama Pangeran Walangsungsang / Embah Kuwu Sangkan, Raden Kiansantang, dan Nyai Mas Rarasantang.

Setelah Pangeran Pamanahrasa berhasil menyunting putri dari Kerajaan Sunda Pakuan maka Pangeran Pamanahrasa diangkat menjadi Raja yaitu Prabu Siliwangi. Dari kedua kerajaan yaitu Kerajaan Galuh dan kerajaan Sunda Pakuan, Maka dua kerajaan besar ini bersatu kembali menjadi Kerajaan Padjajaran Galuh Pakuan yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi Pamanahrasa. Maka diajaklah sekeluarga Istri dan anaknya yaitu Pangeran Walangsungsang dan Ratu Rarasantang di keraton Kerajaan Padjajaran di Pakuan (Bogor). 

Namun sepeninggalnya Nyi Mas Subanglarang agama Islam yang sebelumnya dianut oleh Prabu Siliwangi Pamanahrasa lambat laun luntur dan kembali ke agama sebelumnya yaitu Sunda Wiwitan. Hal ini dikarenakan lingkungan kerajaan masih ketat menganut agama tersebut. Dikarenakan lunturnya agama Prabu Siliwangi membuat Pangeran Walangsungsang dan Ratu Rarasantang berkeinginan belajar pada guru Agama Islam di daerah Cirebon kalau sekarang yaitu Syekh Datul Kahfi yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad SAW. Walau tidak diijinkan oleh ayahanda Prabu Siliwangi tetap memaksa untuk meninggalkan Keraton Padjajaran. Maka setelah menemukan guru Agama Islam tersebut maka mulailah dibangun sebuah perkampungan, dan berkembang menjadi kota perdagangan , Maka diangkatlah Walangsungsang sebagai Kuwu, Untuk itu disebut dengan nama Mbah Kuwu Sangkan sebagai pendiri dari Cirebon yang berasal dari kata Cai Rebon (udang kecil kecil). Pada saat itu Pangeran Walangsungsang berhasil mengembangkan industri dan perokonomian sebagai pusat Industri bahan baku untuk membuat sambal Petis yaitu Rebon, Atau disebut Cai Rebon sebagai Tempatnya Rebon. Tempat patilasan sebagai tempat menumbuk rebon yaitu Dulang yang sekarang masih ada di Keraton Kanoman sebagai bukti keberadaan Mbah Kuwu Sangkan dan sejarahnya. Perkembangan perekonomian diwaktu itu dan juga pelabuhan Internasional yang ramai maka wilayah yang ditempati Pangeran Walangsungsang / Mbah Kuwu mengalami banyak pencampuran Budaya dan Bahasa, yang dalam bahasa daerah waktu itu disebut Charuban berarti Campuran.

Perjuangan mbah Kuwu membangun Cirebon dan menyebarkan Islam dimulai pada usianya yang ke 25 tahun. Ia mulai berdakwah, hingga mencapai puncaknya saat ia menduduki singgasana kerajaan Cirebon, dari situ ia memiliki kekuatan untuk memperluas wilayah dakwahnya.

Semasa hidup, mbah Kuwu memiliki dua istri, yakni Nyi Endang Geulis dan Nyai Ratna Lilis. Dari pernikahannya dengan Nyi Endang Geulis dianugrahi keturunan Nyi Pakung Wati yang kelak menjadi salah satu pendamping Syekh Syarif Hidayatullah.

Syekh Syarif  Hidayatullah sendiri merupakan putra dari Nyai Rarasantang, adik mbah Kuwu Sangkan.

Sedangkan dari pernikahannya dengan Nyai Ratna Lilis dianugrahi seorang putra bernama Pangeran Abdurrokhman.

Kisahnya ada beberapa hewan yang disukai mbah Kuwu Sangkan, yakni kucing Candra Mawa, Macan Samba, dan Kebo Dongkol Bule Karone. Ketiga hewan tersebut diyakini sudah punah dan sekarang menurut kepercayaan orang setempat ketiga hewan itulah yang menjaga makam Mbah Kuwu Sangkan. Bentuk dari ketiga hewan tersebut dapat dilihat pada patung-patung hewan yang ada di sekitar lokasi makam, konon ketiga hewan itu hingga kini masih ada dan menjaga makam Mbah Kuwu Sangkan di daerah Talun Cirebon Girang.

Embah Kuwu Sangkan menetap di daerah Talun sampai akhir hayatnya pada tahun 694 Masehi. Untuk itulah tidak aneh kalau Makam Pangeran Cakrabuana /  Walangsungsang / Mbah Kuwu sering dikunjungi para Peziarah sebagai pendiri kota Cirebon sampai sekarang.


By. Muhib Almusawa

1 komentar:

  1. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Min.... Adakah kisah sejarah perjalanan hidup tentang Pangeran Pajarakan ?

    Terimakasih

    BalasHapus

 
back to top