SELAMAT DATANG DI SITUS HABIB MUHAMMAD IBNU BIN YAASIN ALMUSAWA

Senin, 29 Agustus 2016

SYEKH RUMAJANG

Tidak ada komentar:

Syekh Rumajang adalah putra prabu Siliwangi dari ibu yang bernama Nyi Mas Ratu Subanglarang/ Dewi Kumala Wangi. Syekh Rumajang masa kecilnya bernama Prabu Kian Santang. Ia adalah adik dari Walangsungsang dan Nyi Rarasantang.


Dari sejak kecil sampai dewasa yaitu usia 33 tahun prabu Kian Santang belum pernah dikalahkan kesaktiannya sejagat pulau jawa. Karena sangat ingin sekali mencari orang sakti, akhirnya memohon bantuan kepada ayahanda Prabu Siliwangi untuk mencarikan orang sakti yang bisa mengalahkannya, ternyata gagal karena tidak ada yang sanggup melukai walau hanya kulitnya saja. Sampai para ahli nujum pun dihadirkan untuk mencari dimana ada orang sakti yang mampu mengalahkan Prabu Kian Santang namun tetap tidak ketemu.

Dalam situasi yang membingungkan datang seorang kakek, prabu Siliwangi dan seluruh isi keraton tersebut terkejut, kakek tersebut membawa berita bahwa orang yang dapat menandingi Prabu Kian Santang adalah Sayyidina Ali yang tempatnya jauh di Mekkah (padahal pada waktu itu Sayyidina Ali telah wafat, namun kejadian ini dipertemukan dengan kehendak Allah). lalu kakek tersebut berkata kepada Prabu Kian Santang kalau ingin bertemu dengan dia kamu harus melaksanakan dua syarat yaitu harus muja semedi dulu di ujung kulon, dan nama harus diganti dengan nama Galantrang Setra (Galantrang=Berani, Setra=Bersih/Suci).

Setelah Prabu Kian Santang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah beliau ketanah suci Mekkah. Setibanya disana beliau bertemu dengan sayyidina Ali namun Galantrang Setra tidak mengetahuinya bahwa yang ia hadapi adalah Sayyidina Ali. Lalu Galantrang Setra menanyakan rumahnya sayyidina Ali, maka lelaki tersebut mengantarkannya kerumah sayyidina Ali, namun sebelum berangkat lelaki tersebut menancapkan tongkatnya ditempat tersebut.

Setelah mereka jauh lelaki tersebut meminta Galantrang Setra untuk mengambilkan tongkatnya dan apabila tidak mau maka tidak akan diantar kerumah Sayyidina Ali. Namun setelah mencoba mengambilnya dengan satu tangan tongkat tersebut tidaklah terangkat, maka Galantrang Setra pun mengerahkan semua kekuatannya namun tak kunjung terangkat malah tubuh Galantrang Setra amblas masuk kedalam bumi dengan berkucuran darah.

Akhirnya lelaki yang tidak lain adalah Sayyidina Ali pun datang, dengan membaca Basmalah dan syahadat terangkatlah tongkat tersebut dan seluruh luka ditubuh Galantrang Setra pun sembuh. Maka ia pun meminta diajarkan kalimat tersebut, namun tidak diberikan karena Galantrang Setra belum masuk Islam, dan keduanya melanjutkan perjalanan menuju kota Mekkah.

Sesampainya di Mekkah lelaki yang bersamanya itu dipanggil Ali, Galantrang Setra mendengar sebutan tersebut sangat terkejut bahwa lelaki yang mengantarnya adalah Sayyidina Ali.

Dengan demikian Galantrang Setra merasa takut dan malu sehingga hilang keberaniannya, maka berangkatlah Galantrang Setra dengan maksud pulang ketanah jawa, namun kesaktiannya telah hilang maka Galantrang Setra pun tidak bisa pulang ke jawa sehingga dia pun kembali lagi ke tanah Mekkah.

Seketika itu pula Galantrang Setra menemui Sayyidina Ali dan langsung memohon berguru dan masuk Islam, ia bermukim di Mekkah selama 20 hari sambil mempelajari agama Islam dan barulah kembali ke tanah Jawa Padjajaran.

Setibanya di Padjajaran ia menceritakan pengalamannya ditanah Mekkah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali dan pada akhirnya ia memberitahukan kepada ayahandanya bahwa ia telah masuk Islam, dengan demikian Prabu Siliwangi murka namun Galantrang Setra belum bisa menyebarkan Islam dengan sempurna karena belum menguasai tentang Islam.

Karena ketidakmampuannya menyebarkan agama Islam, maka Galantrang Setra pun kembali lagi ke Mekkah selama 7 tahun untuk menekuni agama Islam. Setelah merasa cukup Galantrang Setra kembali lagi ke Padjajaran bersama saudagar arab.

Setibanya ditanah jawa Galantrang Setra langsung menyebarkan agama Islam dikalangan masyarakat dan sangat diterima oleh masyarakat. Kemudian Galantrang Setra bermaksud menyebarkan agama Islam dilingkungan keraton.

Setelah Galantrang Setra datang ke keraton, ia sangat terkejut karena yang tersisa hanyalah hutan belantara dan tidak didapatinya seorang pun. Maka Galantrang Setra berdo’a memohon kepada Allah untuk dipertemukan dengan ayahandanya yaitu Prabu Siliwangi, Allah SWT. pun mengabulkannya. Dengan tiba-tiba ayah dan pengiringnya keluar dari hutan, sehingga Galantrang Setra pun sangat bahagia dan memberi hormat serta berkata; "Wahai ayahku yang tercinta, kenapa ayah ada di hutan? Sedangkan ayah itu seorang raja, apakah pantas seorang raja diam di hutan? Lebih baik ayah ke keraton dan saya akan mengajak ayah dan para pengiring masuk Islam", Prabu Siliwangi tidak menjawab, malah balik bertanya; "Wahai anakku Prabu Kian Santang, apakah yang pantas untuk diam di hutan?", Galantrang Setra menjawah; "Ayahku, yang pantas ada di hutan adalah binatang buas seperti macan", seketika itu pula Prabu Siliwangi beserta pengiringnya menjadi Macan / Harimau. Namun Galantrang Setra tidak putus asa untuk mengajak ayahnya masuk Islam, sampai akhirnya Prabu Siliwangi terdesak di pantai laut kidul di garut, tetapi tetap tidak mau masuk Islam (karena dengan izin Allah yang meng-Islamkannya adalah Kanjeng sunan Gunung Jati beberapa waktu kemudian).

Dengan rasa menyesal Galantrang Setra membendung jalan larinya Prabu Siliwangi dan Prabu beserta pengiringnya masuk ke dalam gua (Gua Sancang Pameungpek-Garut). Setelah mengejar-ngejar ayahnya dan tidak berhasil maksudnya maka Galantrang Setra atau Prabu Kian Santang kembali ke Padjajaran, sewaktu dalam perjalanan bertemu dengan seorang lelaki yang ingin masuk Islam, dengan sangat gembira Prabu Kian Santang menerimanya dengan mengajarkan dua kalimat syahadat, kemudian orang tersebut di khitan namun karena terlalu gembira sehingga mengkhitannya tergesa-gesa sehingga hasafahnya terputus dan orang tersebut wafat dan dikuburkan ditempat tersebut (Islam Nunggal/ Salam nunggal).

Setibanya di Padjajaran Prabu Kian Santang membangun kembali kerajaan sambil menyebarkan agama Islam kepelosok daerah dibantu oleh saudagar arab, namun istana kerajaan yang diciptakan oleh Prabu Siliwangi menjadi hutan rimba tidaklah dirubah sehingga tetap menjadi hutan.

Tidak lama kemudian Prabu Kian Santang mendapatkan ilham untuk Uzlah (menyepi dan bertafakkur), sehingga Prabu Kian Santang pun berjalan mencari tempat yang cocok untuk berkholwat.

Dalam proses pencariannya, Prabu Kian Santang membawa peti yang berisikan tanah pusaka sebagai tanda tempat yang disinggahinya adalah tempat yang cocok. Apabila tempat tersebut cocok untuk tempat uzlahnya maka peti itu bergerak-gerak/ godeg-godeg, namanyapun dirubah menjadi Sunan Rohmat.


Setelah melalui Gunung Ciremai dan Gunung Tasikmalaya namun tetap tidak ada tanda godeg dari pusakanya tersebut, beliau menuju Gunung Suci Garut dengan namanya Syekh Rumajang (majeng/ maju/ jalan terus/ pantang menyerah dalam mencari ridho Allah). Setibanya digunung Suci peti tersebut diletakkan diatas tanah, secara tiba-tiba peti tersebut godeg-godeg. Dengan godegnya peti tersebut memberi petunjuk bahwa ia harus bertafakkur di Gunung Suci.


Prabu Kian Santang bertafakur selama 19 tahun. Sempat mendirikan Mesjid yang disebut Masjid Pusaka Karamat Godog yang berjarak dari makam godog sekitar kurang lebih 1 Km. Prabu Kian Santang namanya diganti menjadi Syekh Sunan Rohmat Suci atau Syekh Rumajang dan tempatnya menjadi Godog Karamat. Beliau wafat pada tahun 1419 M atau tahun 849 Hijriah. Syekh Sunan Rohmat Suci  wafat di tempat itu yang sampai sekarang dinamakan Makam Sunan Rohmat Suci atau Makam Karamat Godog.

By. Muhib Almusawa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top